Jumat, 27 Maret 2020

SILATURRAHIM ATAU SILATURRAHMI?

Bandung-Teropontimeindonesia.com-Kata-kata "silaturrahim" atau "silaturrahmi" itu berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata; silat dan ar rahim atau ar rahmi.
(صلة الرحم)
Silat itu huruf-hurufnya adalah : shãd, lãm dan tâ' marbuthah,
(صلة)
marbuthah tersebut tetap diucapkan apabila kata ini diidhofahkan (disambungkan) dengan kata lain, tapi kalau disebut secara terpisah diucapkan "silah" memakai haa'. Transliterasi (penyalinan huruf abjad ke huruf abjad lain) silat atau silah itu sebenarnya kurang tepat, karena huruf pertama adalah shaad, bukan siin. Yang lebih tepat jika ditulis shilat/h atau silat/h dengan titik di bawah huruf s. Silat atau silah artinya sambungan atau menyambung atau menjalin atau menghubungkan.
Sedang ar rahim atau ar rahmi dari satu akar kata yang sama yaitu rahimayarhamu. Transliterasinya ada yang menulis seperti di atas, dan ada pula yang menulis seperti berikut: al rahim atau al rahm. Dari kata-kata rahimayarhamu bisa menghasilkan dua bentuk masdar (kata infinitif) yang berbeda dan mempunyai arti yang berbeda pula; Pertama: rahimayarhamuruhmanwa ruhumanwa rahmatanwa rahamatanmarhamatan yang artinya kasih sayang. Kedua: rahimayarhamurahmanwa rahamanwa rahamatan yang mempunyai arti rasa sakit pada rahim wanita setelah melahirkan.
Bahasa Arab mempunyai makna yang luas, dengan demikian tidak salah jika mengatakan silaturruhmi, silaturruhumi, silaturrahmati, silaturrahamati, silatulmarhamati. Namun yang paling tepat adalah "silaturrahim", karena disebut dalam banyak hadits, di antaranya adalah:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ".
“Diriwayatkan dari Anas bin Malik Radhiyallâhu Ànhu berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallâhu Àlaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya atau ditambahkan umurnya maka hendaklah ia menyambung kekerabatannya.”(Hr. Bukhari dan Muslim)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ اْلآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ". [رواه البخاري]
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallâhu Ànhu bahwa Nabi Shallallâhu Àlaihi Wasallam bersabda: Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menghormati tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia menyambung kekerabatannya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbicara yang baik atau hendaklah ia diam.” (Hr.  Bukhari)
عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الرَّحِمَ شِجْنَةٌ مُتَمَسِّكَةٌ بِاْلعَرْشِ تَكَلَّمَ بِلِسَانٍ ذَلِقٍ: "اَللَّهُمَّ صِلْ مَنْ وَصَلَنِي وَاقْطَعْ مَنْ قَطَعَنِي". فَيَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: "أَنَا الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ، وَإِنِّي شَقَقْتُ لِلرَّحِمِ مِنَ اسْمِي، فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ، وَمَنْ نَكَثَهَا نَكَثْتُهُ"
Diriwayatkan dari Anas Radhiyallâhu Ànhu, bahwa Nabi Shallallâhu Àlaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya rahim (kekerabatan) itu adalah cabang kuat di 'Arsy berdoa dengan lisan yang tajam: "Ya Allah sambunglah orang yang menyambungku dan putuslah orang yang memutusku". Maka Allah Tabaraka wa Ta'ala berfirman: "Aku adalah ar Rahman ar Rahim. Sungguh Aku pecahkan dari nama-Ku untuk rahim (kekerabatan), maka barangsiapa menyambungnya niscaya Aku menyambung orang itu, dan barangsiapa memutuskannya pasti Aku memutuskan orang itu.” (Hr. al Haitsami)
Boleh mengatakan "silaturrihmi" karena arti "ar rihmi" sama dengan "ar rahim" yang mempunyai tiga arti; rahim wanita, kekerabatan dan kerabat itu sendiri. Kerabat adalah mereka yang ada ikatan nasab atau keturunan, baik ia mewarisinya atau tidak.
Kata-kata silaturrahim atau silaturrahmi ini sangat populer dalam bahasa Indonesia tanpa perlu diterjemahkan. Sebagaimana istilah-istilah dalam Islam lainnya seperti shalat, haji, amar maruf nahi munkar dan lainnya. Yang jelas arti silaturrahim adalah menyambung atau menjalin kasih sayang dengan kerabat dan kenalan dengan cara memberinya sedekah atau salam atau pertolongan atau mengunjunginya atau lainnya sesuai dengan keadaan kita dan mereka.
Meskipun yang paling tepat adalah "silaturrahim" atau "silaturrihmi", jika kata-kata Arab itu telah menjadi bahasa kita, maka tidak mengapa menuliskan atau mengucapkannya sesuai dengan lisan kita. Bahasa itu berkembang dan senantiasa mengalami modifikasi, apalagi ketika ditransliterasikan (disalin) atau diterjemahkan ke dalam bahasa lain, dan bukan suatu kesalahan menurut syara’.
Dalam hadits Qudsy, Allah Àzza Wajalla berfirman:
أَنَاالرَّحْمَنُ، أَنَا خَلَقْتُ الرُّحْمَ وَ شَقَقْتُ لَهَاآسْمًا مِنْ إِسْمِى فَمَنْ وَصَلَهَا وَ صَلْتُهُ وَمَنْ  قَطَعَهَا قَطَعْتُهُ وَمَنْ بَتَّهَابَتَتُّهُ
“Aku Maha Pengasih, Akulah yang menciptakan kasih sayang dan Aku pakai sebagai nama-Ku. Barangsiapa yang memutuskannya, maka putuslah hubungannya dengan-Ku. Dan barangsiapa yang merusaknya, maka rusaklah hubungannya dengan-Ku.” (Hr. Tirmidzi)
Ar Rahm” menurut istilah bermakna keluarga berdasarkan nasab atau tidak, berlaku hukum mewarisi atau tidak, mahram atau bukan.
Menurut bahasa berasal dari kata “ar rahman” yaitu nama sejenis pohon yang ranting-rantingnya menempel pada Àrsy Allah Àzza Wajalla, mengisyaratkan bahwa barangsiapa yang memutuskannya maka dia telah terputus dari rahmat Allah Àzza Wajalla, Dzat yang bersemayam di Àrsy. Sebagaimana firman Allah Àzza Wajalla kepada ar rahm, “Apakah kamu rela jika Aku menyambung yang menyambungmu, dan Aku memutuskan siapa yang memutuskanmu.” Maksudnya suatu tali yang menghubungkan atau memutuskan kebersamaan dengan Allah Àzza Wajalla. (Fathul Bari)
Nabi Shallallâhu Àlaihi Wasallam bersabda:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعٌ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturrahmi.” (Hr. Bukhari)

مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللّٰهُ لِصَاحِبِهِ الْعُقُوْبَةَ مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ مِنَ الْبَغْىِ وَ قَطِيْعَةِ الرَّحِمِ 
“Tidak ada dosa yang lebih pantas untuk dipercepat siksanya atas pelakunya dan siksanya yang ditunda, daripada berlaku aniaya dan memutuskan hubungan silaturrahim.” (Hr. Bukhari ~ Adâbul Mufrâd)
Diriwayatkan dari Sayyidinâ Anas Radhiyallâhu Ànhu bahwa,
عَذَّبَانِ يَعْجِلاَنِ فِي الدُّنْيَا البَغَي وَقَطِيْعَةُ الرَّحِمِ
“Dua siksa yang didahulukan di dunia yaitu berbuat keji (durhaka) dan memutuskan silaturrahim.” (Hr. Bukhari ~ Adâbul Mufrâd)
Rasulullah Shallallâhu Àlaihi Wasallam bersabda, “Sesungguhnya di sekitar Àrsy terdapat mimbar-mimbar cahaya, di atasnya terdapat satu kaum yang mengenakan pakaian cahaya, serta wajah mereka juga bercahaya. Mereka itu bukan nabi, bukan pula syuhada, akan tetapi para nabi dan syuhada merasa iri kepada mereka, sehingga mereka bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah gerangan mereka itu?’ Beliau Shallallâhu Àlaihi Wasallam menjawab, ‘Mereka adalah orang yang saling mencintai karena Allah dan saling bermajelis (duduk memikirkan sesuatu) dan saling mengunjungi karena Allah semata.’” (Hr. Nasa’i ~ al Kubra)

Tidak ada komentar:

Terkini

Sinergitas MNC TV Dan Tiga Pilar Kembali Bagikan Paket Sembako Jakbarberbagi

Jakarta Barat,Teropongtimeindonesia.com - Sinergitas MNC TV bersama Tiga Pilar Kecamatan Kebon Jeruk dalam bentuk kepedulian kepada war...